Senin, 22 Oktober 2012

Bahan Ceramah Agama | Tema Penyakit Hati | Revitalisasi Niat

Berikut ini bahan ceramah agama dengan tema penyakit hati. Judulnya Revitalisasi Niat. Semoga bermanfaat.

Bahan Ceramah Agama : Tema Penyakit Hati
Judul ceramah : Revitalisasi Niat

 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Semua manusia yang didedikasikan hidup di alam fana ini sebagai khalifah meyakini seteguh hati bahwa ada hari lain yang jauh lebih nyaman dan asyik dibanding hari hari yang kita jalani di dunia ini. Hari yang indah dan mengasyikkan itu adalah hari-hari yang akan dijalani oleh orang orang yang baik di dunianya.

Untuk memperolehnya tentu butuh usaha keras dengan platform akhirat oriented. Pondasi niat menjadi pilar utama menuju hal itu, karena niat berimplikasi terhadap semua aktifitas kekhalifahan di dunia, sedangkan dunia sendiri adalah ladang (mazra’ah) akhirat. Garisbawahilah dengan tebal terhadap salah satu pesan Rasulullah yang disampaikan kepada Abu Dzar al Ghiffari yakni,

جدِّدِالَّفِيْنَةَ فَإِالْبَحْرَ عَمِيْقٌ
perbaruhilah perahumu, karena sesungguhnya lautan itu dalam

Pesan rasulullah kepada Abu Dzar ini bersifat metaforis, mengumpamakan niat sebagai perahu dan kehidupan ini seperti lautan yang dalam dan luas, perahu untuk menampung semua unsur dan materi yang hendak di bawa ke suatu tempat (bc: akhirat), tempat yang damai dan asyik serta membahagiakan.

Lautan punya gelombang yang mampu menggeser manusia dari tujuan semula, yang benar berubah menjadi salah, dari yang lurus menjadi belok, dari pemberani menjadi pengecut, dari penyabar menjadi pemarah, licik dan gentar, serta ketersinggungan yang dominatif dan abadi bersemayam ke dalam hati orang orang yang dibelokkan oleh gelombang lautan duniawi
Makna lain yang mungkin tersembunyi adalah buih, Lautan juga banyak dihuni buih yang indah dalam panorama pandangan mata namun minus fungsinya. Buih sebagai simbol bayang bayang duniawi yang ‘menipu’, besar secara eksistensi akan tetapi kerdil secara substansi.

Dengan berbagai iming iming keindahan, dunia mampu menjebak orang-orang bodoh terkurung dalamlangkah kehidupan praktis dan berorientasi ekonomis (economic-oriented), ketimbang berbicara konsep ideologis, atau landasan epietemologis. Terkadang hal ini diperparah lagi dengan perasaan serba benar, ketersinggungan, menggerutu dan congkak terhadap nasehat kawan, apalgi jika dihinggapi sifat kebal kritik. Manusia yang tertipu oleh buih lautan seperti ini akan senang berjalan seribu langkah dalam bayang-bayang ilusi ketimbang satu langka namun pasti.

Hiruk pikuknya kegiatan tidak bernilai future oriented namun hanya berbicara dan menyelesaikan masalah yang bersifat sesaat, tidak ada konsistensi (istiqamah) dan lebih condong terhadap tathayyur sehingga semua tapak dan jejak langkahnya terkesan ngawur dan ngelantur.

Terkadang orang hanya mengandalkan kemewahan dan model performance, tapi melupakan kemampuan dan tanggung jawabnya didunia, di dunia adalah ibadah dan akhirat adalah nganggur, selama nafas kita tertulis di dunia maka proses belajar menjadi insan kaamilah tak boleh terhenti.
Niat memegang kendali untuk membawa gerbong besar semua aktifitas yang menyangkut tanggung jawab kepada Allah secara total, tidak hanya terbatas atas kewajiban ibadah mahdhoh yang lebih terkesan individulis tetapi manusia juga bertanggung jawab terkait ritual sosial.

Pendek kata. Manusia adalah simbol kekhalifahan Allah secara total di dunia, sebagai buku panduannya adalah al Qur'an dan petunjuk rasul utusan-Nya. Kepada manusia semua ditundukkan, dibumi dan dilangit tunduk terhadap perlakuan manusia (QS. Al Jatsiyah:13), dan Allah juga memberikan mandat kepada khalifah di dunia untuk menundukkan siang dan malam (QS. Ibrahim:33), bahtera juga tunduk agar bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia (QS. Ibrahim;32). Lalu apa yang menjadikan tidak “bisa”. Pertanyaan itu seolah mengalir tidak tertampung jawabannya.

Sejatinya yang menjadikan manusia tidak mampu adalah karena malas dan keengganannya dalam melaksanakan tugas kekhalifahan yang di emban. Tentu, masih ada kamus yang dirujuk oleh orang orang yang berstatus tidak becus dengan mengatakan “tidak bisa”, tetapi tidak ada kamus yang dapat menjawab sebuah problema mana kala yang dikatakan adalah “saya malas”.
Disitulah efektifitas perbaikan niat untuk menggapai kebahagiaan di akherat.
(ceramahsingkat.blogspot.com)