Keajaiban Sedekah | Sifat Allah | Sahabat Nabi | Ceramah Agama | Tayangan Keajaiban | Amazing!Herbal Halal & Ampuh Obati Penyakit
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tampilkan postingan dengan label Tuntunan Sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuntunan Sedekah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Agustus 2010

Menjeput Keajaiban Dengan Sedekah

Salah satu buku karya Ust. Yusuf Mansur mampu memberikan pencerahan bagi orang yang membacanya. Sebuah buku yang mampu menyadarkan nurani seorang muslim untuk mengoreksi diri, menatanya, dan bergegas untuk mengubah diri.

Buku bertema The Miracle ini menekankan bahwa ibadah adalah sebuah solusi bahkan metode untuk mengatasi berbagai problematika kehidupan dan mencapai kebahagiaan. Bukan kejadian sekedar tiba-tiba, kebetulan, dan tanpa proses.


Di antara bentuk ibadah yang disinggung dalam buku ini adalah sedekah dan shalat, terutama shalat malam. Rasulullah selalu memulai hidupnya dengan qiyamullail. Tidak sembarang hamba yang mau melaksanakan qiyamullail (tahajjud).

Kita mungkin bisa bangun malam, tapi belum tentu mau shalat malam kecuali hamba-hamba-Nya yang terpilih. Para malaikat pun terkagum-kagum dengan orang-orang yang melaksanakan qiyamullail. Allah menjanjikan keutamaan bagi siapa saja yang mengerjakan shalat malam. ”Dan pada sebagian malam hari bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (QS Al Israa’ : 79).

Adapun sedekah, ia adalah jalan cepat bagi siapa saja yang ingin mendapatkan rezeki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,”Carilah rezeki dengan bersedekah”. Bukankah sebelum menangkap ikan kita harus memancing?

Bahkan dalam keadaan sempit pun kita sangat dianjurkan bersedekah agar kita menjadi lapang. ”Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya...” (QS At Thalaq:7).

Ust. Yusuf Mansur, melalui penuturan kisahnya dalam buku ini; baik yang Beliau alami sendiri maupun testimoni jamaahnya, mampu memberikan pemahaman dengan baik bahwa dengan jalan sedekah dan shalat malam (tahajjud), seseorang akan diampuni dosanya oleh Allah, do’anya menjadi mustajab, dijaga kesehatannya, kehidupannya menjadi berkah, dan akan dikayakan oleh Allah.

Yang istimewa, kajian sedekah dalam buku ini melalui pendekatan ilmiah, yang membuktikan bahwa sedekah itu bersifat metodologi. Tidak berlebihan bila dibilang buku ini memberikan nuansa yang berbeda dalam melengkapi khazanah kajian tentang sedekah.
(http://www.gemar-sedekah.co.cc/2010/03/menjemput-keajaiban-sedekah-dengan.html)

Bersedekah Dengan Cara Yang Benar

Memang sedekah itu mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam hidup seseorang. Maka banyak-banyaklah sedekah karena manfaat sedekah yang besar itu. Berikut adalah ulasan dari sebuah blog yang menurut saya sangat bagus untuk kita terapkan.

Ini pendapat Joe Vitale, penulis Spiritual Marketing. Juga pendapat banyak penulis lain yang dari pengalamannya mendapati bahwa semakin dia rela memberi (bersedekah) semakin banyak apa yang dia sumbangan itu kembali kepada dirinya dengan berlipat-lipat. Kalu dia nyumbang uang, maka (biasanya) akan datang uang. Kalau tenaga, maka akan kembali banyak bantuan. Kalau ilmu, maka akan kembali lebih banyak ilmu. Mereka menemukan bahwa "to give in order to get" adalah suatu hukum universal.
Sebentar, masih menurut orang-orang tersebut, hanya sedekah yang tulus lah yang akan menggetarkan semesta. Jadi tidak semua pemberian akan memberikan efek pengembalian yang diharapkan. Tentu saja ini bukan sok merasa lebih tahu tentang cara yang disukai Tuhan, ini adalah berbagi pengalaman apa yang mereka rasakan. Kisah-kisah mereka dikumpulkan dalam e-book "The Greatest Money-Making Secret in History!". Silahkan di download sendiri ya. http://www.plainwords.co.nz/greatestmms.pdf

Berikut ini cara bersedekah (menyumbang) yang mereka rasakan mampu menggetarkan spiritualitas mereka :

1. Bersedekahlah saat merasa ingin bersedekah, jangan sampai merasa terpaksa.
Bila saat bersedekah kita justru merasa kesal, maka akan tertanam di bawah sadar bahwa bersedekah itu tidak enak, bahkan mengesalkan. Mungkin seperti kalau kita bayar parkir kepada preman di pinggir jalan. Ada perasaan terpaksa, tak berdaya, bahkan dirampok. Bukan karena besar kecilnya nilai uang, tapi rela tidaknya perasaan saat memberikan sumbangan. Kalau anda sedang suntuk, tunggu sampai hati lebih riang. Memberi dengan berat hati akan memberi asosiasi buruk ke alam bawah sadar.

2. Bersedekahlah kepada sesuatu yang disukai sehingga hati Anda tergetar karenanya.
Mungkin suatu ketika Anda ingin menyumbang yatim piatu, di waktu lain mungkin menyumbang perbaikan jembatan, mungkin pelestarian satwa yang hampir punah, mungkin disumbangkan untuk modal usaha bagi seorang pemula. Intinya adalah Anda sebaiknya menyedekahkan pada hal yang membuat perasaan Anda tergetar. Setiap orang akan berbeda. Seringkali seseorang menyumbang ke tempat ibadah, tapi hatinya tidak sejalan, hanya karena kebiasaan. Menyumbang yang tak bisa dihayati tak akan menggetarkan kalbu.

3. Bersedekahlah dengan sesuatu yang bernilai bagi Anda.
Kebanyakan wujudnya adalah uang, namun lebih luas lagi adalah benda yang juga anda suka, pikiran, tenaga, ilmu yang anda suka. Dengan menyumbang sesuatu yang anda sukai, membuat anda juga merasa berharga karena memberikan sesuatu yang berharga.

4. Bersedekahlah dalam kuantitas yang terasa oleh perasaan.
Bagaimana rasanya memberi sedekah 25 rupiah? Bagi kebanyakan orang nilai ini sudah tidak lagi terasa. Untuk seseorang dengan gaji 1 juta, maka 50 ribu akan terasa. Bagi yang perpenghasilan 20 juta, mungkin 1 juta baru terasa. Setiap orang memiliki kadar kuantitas berbeda agar hatinya tergetar ketika menyumbang. Nilai 10 persen biasanya menjadi anjuran dalam sedekah (bukan wajib), mungkin karena sejumlah nilai itulah kita akan merasakan "beratnya" melepas kenikmatan.

5. Menyumbang anonim akan memberi dampak lebih kuat.
Ini erat kaitannya dengan ketulusan, walaupun tidak anonim juga tak apa-apa. Dengan anonim lebih terjamin bahwa kita hanya mengharap balasan dari Tuhan (ikhlas).

6.Bersedekah tanpa pernah mengharap balasan dari orang yang anda beri.
Yakinlah bahwa Tuhan akan membalas, tapi tidak lewat jalan orang yang anda beri. Pengalaman para pelaku kebanyakan menunjukkan bahwa balasan datang dari arah yang lain.

7. Bersedekahlah tanpa mengira bentuk balasan Tuhan atas sedekah itu.
Walaupun banyak pengalaman menunjukkan bahwa kalau bersedekah uang akan dibalas dengan uang yang lebih banyak, namun kita tak layak mengharap seperti itu. Siapa tahu sedekah itu dibalas Tuhan dengan kesehatan, keselamatan, rasa tenang, dll, yang nilainya jauh lebih besar dari nilai uang yang disedekahkan.

Demikian berbagai hal yang berkaitan dengan prinsip bersedekah. Prinsip-prinsip ini sangat sesuai dengan petunjuk rasulullah Muhammad berkaitan dengan sedekah dan keutamaannya. Kalau tak salah, ada hadits yang menyatakan bahwa tak akan menjadi miskin orang yang bersedekah. Dijamin.

Selain itu bersedekah juga menghindarkan diri dari marabahaya.
Ada sebuah kisah yang kalau tak salah saya dapat dari Pak Jalaluddin Rakhmat tentang seorang yang ditunda kematiannya karena bersedekah. Suatu ketika rasulullah sedang duduk bersama para sahabat. Lalu melintaslah seorang yang memanggul kayu bakar. Tiba-tiba Rasulullah berkata kepada para sahabat, "Orang ini akan meninggal nanti siang."

Sorenya ketika Rasulullah duduk bersama para sahabat, melintaslah orang tersebut. Maka dipanggillah orang tersebut oleh rasul dan ditanya, "Aku diberitahu (malaikat) tadi pagi bahwa kamu akan menemui ajal siang tadi. Tapi kulihat kamu masih segar bugar. Apa yang telah kamu lakukan?" Kemudian orang itu berkisah bahwa tadi pagi dia membawa bekal makan siang. Lalu di tengah jalan bekal itu dia sedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Selanjutnya, kata orang itu, saat kayu-kayu bakar diletakkan tiba-tiba seekor ular hitam keluar dari dalamnya. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa ular itulah yang sedianya akan mematuk orang tersebut, namundia berpindah takdir karena sedekahnya menghidarkan dia dari bahaya tersebut.

(Demikian lebih kurang sebuah kisah yang saya tahu. Sayang saya lupa detilnya, apalagi perawinya. Jadi mohon dicari sendiri sumber kisah tersebut. Seingat saya kisah tersebut dari Pak Jalal yang saya kenal punya banyak sumber terpercaya.)
Kisah itu menunjukkan keutamaan sedekah yang bisa menghindarkan diri dari bahaya, sekaligus menujukkan bahwa cara Tuhan membalas sedekah tidak dalam bentuk dan jalan yang kita duga.

Materi ini saya nukil dari blog:rahasiauangdankekayaan.blogspot.com
Baca juga artikel dibawah ini :

Adab Sedekah

Inilah Adab Sedekah yang menjadikan amal sedekah Anda sempurna.

Pertama: Luruskan niat!
Hendaklah yang dicari hanyalah wajah Allah semata, bukan karena riya' atau ingin dipuji manusia dengan dikatakan dermawan.


Kedua: Harus dari harta yang halal!

Ketiga: Sedekah dengan harta yang paling dicintai

Keempat: Mendahulukan kerabat terdekat
Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam (yang artinya):
"Sedekah kepada orang miskin mendapat satu sedekah, dan sedekah kepada saudara kerabat mendapat dua pahala; pahala sedekah dan pahala menyambung tali silaturahmi." (HR. Ahmad (IV/18). Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini hasan dalam al Irwaa' (no. 883)).

Kelima: Jangan sembarangan memberi orang

Keenam: Menyembunyikan sedekah
Sebisa mungkin hendaknya bagi orang yang sedekah untuk menyembunyikan sedekahnya, kecuali apabila menampakkan sedekah membawa mashlahat yang kuat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka hal itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya, dan kamu berikan kepada orang orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik lagi bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Baqarah: 271).

Ketujuh: Keluarkan sedekah walaupun sedikit

Kedelapan: Tunaikan zakat yang wajib!

Kesembilan: Lembut kepada fakir miskin dan jangan diungkit ungkit!
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
"Orang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al Baqarah: 262).

Imam al Qurthubi rahimahullah mengatakan, "Orang orang yang menyebut nyebut pemberiannya biasanya dari orang yang pelit. Orang yang pelit selalu merasa besar dengan apa yang diberikannya sekalipun sedikit!".

Kesepuluh: Jangan rakus dengan harta dan dunia yang fana!

Menyembunyikan sedekah itu lebih baik. Lebih terbebas dari riya'. Tidak banyak orang yang tahu. Sehingga sedekah yang diberikan secara tersembunyi menjadi rahasia antara dirinya dan Allah Jalla wa 'Ala.

Banyak kisah kisah para salafush Shalih yang bersedekah secara tersembunyi. Contoh yang bagus adalah yang dari buku "Kebeningan Amal Tersembunyi" karya Walid bin Sa'id Bahkam penerbit Darul Falah. Inilah kisahnya:

Dari Abu Hamzah Ats Tsumaly, bahwa Ali bin Al Husain membawa roti di atas punggungnya pada malam hari lalu mencari orang-orang miskin di kegelapan malam. Dia berkata, "Sesungguhnya shadaqah yang diberikan pada kegelapan malam dapat memadamkan kemurkaan Allah."

Dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata, "Penduduk Madinah hidup dengan makanan itu, sementara mereka tidak tahu siapa yang telah memberi makanan itu kepada mereka. Setelah Ali bin Husain meninggal dunia, maka mereka tidak lagi mendapatkan makanan pada malam hari."

Dari Amr bin Tsabit, dia berkata, "Setelah Ali bin Al Husain meninggal dunia, orang-orang melihat bekas punggungnya, yaitu bekas kantong makanan yang biasa dia panggul untuk diberikan kepada para wanita janda."

Syaibah bin Nu'amah berkata, "Setelah Ali bin Al Husain meninggal dunia, orang-orang mendapatkan seratus keluarga yang dia santuni. Karena itulah dia dianggap orang bakhil. Pasalnya, dia menyalurkan infaq secara rahasia, sementara keluarganya mengira dia menumpuk dirham. Sebagian diantara mereka berkata, "Kami tidak pernah kehilangan shadaqah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi hingga Ali meninggal dunia."
(http://id.shvoong.com/books/1871963-keajaiban-sedekah)

Baca juga artikel dibawah ini :

Senin, 26 Juli 2010

Persepsi Salah Tentang Sedekah Dan Zakat

Zakat Merupakan rukun islam yang ketiga, tak seperti shalat ataupun puasa yang relatif umum di masyarakat, namun pemahaman masyarakat dalam memahami zakat masih sedikit dibawah shalat dan puasa. Dari pemahaman yang terkesan sekenanya itu timbullah beberapa persepsi yang salah yang tanpa disadari oleh masyarakat itu sendiri menjadi zakat terkesan sebagai ibadah yang tidak penting.

Ada tiga persoalan berhubungan dengan persepsi masyarakat umat Islam di sekitar pengertian zakat selama ini yang merupakan persepsi yang keliru dan harus diluruskan.

Pertama, zakat sebagai ketentuan terpisah dari ketentuan shalat.Persepsi salah bagi kebanyakan umat Islam yang keliru bahwa zakat merupakan ketentuan terpisah dengan shalat perlu diluruskan. Pelurusan persepsi ini sangat penting karena suatu persepsi sangat menentukan tingkah laku perbuatan terhadap sesuatu yang dipersepsinya, demikian juga persepsi umat Islam tentang zakat.

Sementara ini peresepsi umat Islam tentang zakat merupakan kewajiban terpisah dengan shalat, sehingga umat Islam pada umumnya hanya mementingkan shalat saja ,sementara dengan zakat hampir tidak diperdulikan oleh umat Islam. Berbeda apabila umat Islam bisa dirubah persepsinya tentang zakat sebagai kewajiban satu paket dengan shalat, maka perilaku umat Islam akan mementingkan zakat sebagaimana mereka mementingkan terhadap shalat. Jadi sangat penting meluruskan persepsi ini.

Perhatian Islam terhadap kaum yang miskin sangat besar sekali dan merupakan hal prinsipil. Untuk merealisasikan hal tersebut Islam menjadikan zakat menjadi pilar pokok ketiga setelah shalat, sebagaimana dapat disimak dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang artinya : “ Islam dibangun di atas lima tiang pokok, yaitu kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah; mendirikan shalat; membayarkan zakat; berpuasa dalam bulan Ramadhan; dan naik haji bagi yang sanggup “. Di dalam Al-Qur’an dinyatakan oleh Allah setiap perintah shalat senantiasa diikuti dengan zakat. Hal ini tentu menunjukkan betapa eratnya hubungan antara keduanya. Bahkan Islam mempersyaratkan kepada orang yang masuk Islam dengan mengerjakan shalat dan membayar zakat. Lihat Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 5 dan 11 ).

Beberapa orang sahabat Nabi menyatakan tentang zakat sebagai berikut; Abdullah bin Abbas menyatakan ,” anda sekalian diperintahkan menegakkan shalat dan membayarkan zakat. Siapa yang tidak mengeluarkan zakat maka shalatnya tidak akan diterima”. Berikutnya Jabir bin zaid mengatakan, “ shalat dan zakat adalah kewajiban dalam satu paket, keduanya tidak terpisahkan. Allah tidak akan menerima shalat kecuali dibarengi dengan zakat”. Sahabat Abu Bakar ketika menjadi Khalifah mengatakan , “ Demi Allah, saya akan memerangi siapa yang memisahkan shalat dan zakat”.

Dari urain tersebut dapat difahami bahwa tanpa membayarkan zakat maka seseorang tidak dapat dianggap sebagai seorang yang beriman ( Al-Qur’an Surat Al-Mukminun ayat 1-4, dan Surat An-Naml ayat 2-3 ). Didalam Surat Lukman ayat 3-4 Allah lebih menegaskan bahwa tanpa membeyarkan zakat, seseorang itu tidak dapat masuk kedalam orang-orang yang berbuat baik dan orang-orang yang memperoleh petunjuk.. Demikian juga dalam surat Al-Baqarah ayat 177 dinyatakan bahwa orang yang tidak membayarkan zakat tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang baik, jujur dan taqwa.

Kedua, nisab zakat sebagai ketentuan maksimal bukan minimal, Persepsi masyarakat tentang nisab zakat sebagai ketentuan maksimal seperti selama ini perlu dirumuskan kembali. Bagaimana masyarakat bisa mengubah persepsinya bahwa nisab zakat yang tertera dalam dalil-dalil al-Qur’an dan hadits adalah merupakan ketentuan minimal, sehingga dengan demikian masyarakat umat Islam bisa memiliki kesadaran memberikan zakatnya dengan berlomba-lomba memberikan sebanyak mungkin, karena menurut ajaran Islam berlomba-lomba dalam kebaikan adalah sangat dianjurkan ( Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 148 ).

Bisa dibayangkan, apabila masyarakat umat Islam bisa merubah persepsinya bahwa nisab zakat yang ditentukan oleh ajaran Islam itu sebagai ketentuan minimal bukan ketentuan maksimal, maka akan banyak sekali uang zakat yang bisa terkumpul. Di sisi lain secara psikologi sosial dapat difahami bahwa persepsi itu merupakan proses selektif dari interpretasi yang kemudian akan mewujud perbuatan, disamping bisa difahami bahwa dengan persepsi nisab sebagai ketentuan minimal maka ada proses edukatif yang sangat luar biasa bagi umat Islam untuk memotivasi diri mau berzakat sebanyak-banyaknya, ketimbang ketika nisab itu dipersepsi sebagai ketentuan maksimal.

Ketiga, zakat hanya dimaknai sebagai ibadah saja. Zakat selama ini hanya dimaknai oleh umat Islam pada umumnya sebagai ibadah semata, dengan demikian nilai zakat penetrasinya yang terpenting adalah bagi sipemberi zakat saja yaitu, terhindar dari dosa karena telah melaksanakan kewajiban ibadah yang hukumnya wajib dan mendapatkan pahala yang akan mengantarkan kehidupan dirinya selamat dan senang pada kehidupan di akhirat nantinya. Persepsi seperti itu tentu tidak banyak membawa kebaikan terutama bagi upaya pengentasan kemiskinan dan persaudaraan umat Islam yang sangat penting dan pokok merupakan hikmah diwajibkannya zakat dalam ajaran Islam.

Sudah saatnya bagi umat Islam berbenah diri, introspeksi diri, mengapa umat Islam lemah, umat Islam tidak maju, Umat Islam bodoh, miskin dan keterberlakang, dan masih banyak lagi stigma-stigma serupa yang diperuntukkan bagi umat . Ajaran Islam selalu mengajarkan agar umat Islam dapat hidup lebih baik dari hari kemarin. Dalam sebuah hadits Rasulullah dinyatakan “ Siapa yang keadaannya sama dengan keadaan hari kemarin maka mereka adalah orang yang merugi, siapa yang keadaannya lebih buruk dari hari kemarin maka mereka itu orang yang dilaknat oleh Allah, dan siapa yang keadaannya lebih baik dari hari kemarin maka mereka itulah orang yang beruntung “.( Al-Hadits ). Allah juga menyatakan dengan tegasnya bahwa Dia (Allah) tidak akan merubah keadaan umat Islam dari keterpurukan menjadi kesuksesan kecuali umat Islam itu sendiri yang mau berusaha merubahnya ( al-Qr’an Surat Ar-Ra’du ayat 11 ).

Tidak ada jalan lain kecuali umat Islam sadar sesadar-sadarnya dan mau mengubah persepsi diri tentang zakat, tidak saja bermakna ibadah saja, melainkan bahwa zakat di dalam ajaran Islam di samping bermakna ibadah, juga zakat diwajibkan karena mengemban misi persaudaraan Islam yang sejati dan sebagai sarana pengentasan kemiskinan. Kedua hal ini di dalam kehidupan masyarakat umat Islam memang betul-betul dibutuhkan keberadaannya.

Persaudaraan Islam yang hakiki tidak bisa tidak harus selalu diusahakan meskipun dalam realisasinya sangat sulit bahkan cenderung mustahil, itu semuanya karena umat Islam tidak mempunyai persepsi yang benar mengenai zakat untuk merajut persaudaraan sejati umat Islam. Dengan tidak adanya persepsi tersebut maka umat Islam tidak pernah ada usaha sama sekali melalui zakatnya diperuntukkan bagi terwujudnya persaudaraan sejati dimaksud Persaudaraan umat Islam saat sekarang ini sesungguhnya adalah persaudaraan yang semu, artinya bukan persaudaran yang sebenarnya atau persaudaraan sejati.

Persaudaraan yang ada dikalangan umat Islam hanya sekedar persaudaraan saling ikut merasakan kesedihan ketika ada yang ditimpa musibah, atau ikut merasakan kebahagiaan. Ketika ada saudaranya mendapatkan kebahagiaan. Belum sampai ketingkat ikut memikirkan, ikut berkorban untuk kepentingan saudaranya itu dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Bahkan kecenderungan yang ada sesama umat Islam saling masa bodoh yang penting dirinya dan keluiarganya selamat. Keadaan seperti ini harus disadari oleh seluruh umat Islam dan dimulai dari para ulama, cendekiawan atau intelektual muslim dalam kerangka menyelamtkan umat kedepan.

Disisi lain persoalan kemiskinan umat Islam selalu ada di mana-mana. Dalam hal ini umat Islam tidak pernah ada usaha melalui zakat ini untuk memberantas Kemiskinan ini, persoalannya karena tidak adanya persepsi umat Islam bahwa zakat itu diwajibkan dalam Islam adalah untuk memberanatas kemiskinan, sehingga dengan persepsinya itu umat Islam tidak pernah ada usaha yang sungguh-sungguh memanfaatkan zakat itu untuk mengentaskan kemiskinan umat Islam. Kalaupun ada upaya pengentasan kemiskinan melalui ibadah zakat ini porsinya masih sangat kecil sekali, yaitu oleh sebagian kecil umat Islam yang sadar menggerakkan badan amil zakat.

Terus terang saja bahwa badan amil zakat pada saat itu masih segelintir kecil saja di seantero nusantara ini yang ada dan mulai bergerak memikirkan kearah pengentasan kemiskinan. Bagi badan amil zakat yang sudah ada di beberapa daerah di seluruh nusantara ini jika dilihat dari cara dan hasil kerjanya belum optimal. Untuk beberapa daerah boleh dikatakan bekerjanya masih konvensional. Bersyukur untuk beberapa daerah meskipun kuantitasnya masih sangat minim dan bisa dihitung dengan jari sudah mulai digarap mengarah kepada cara profesional.

Padahal apabila umat Islam mau sadar dan mau berfikir sedikit tentang manfaat zakat bagi pengentasan kemiskinan, maka hasilnya akan sangat luar biasa, dan hampir semua umat Islam setuju pasti akan bisa diatasi atau dientaskan kemiskinan itu dengan zakat, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam yang mempunyai bebanan zakat ini.

Di samping persepsi tentang zakat bagi umat Islam itu perlu diperbaharui, maka dalam hal sedekah ternyata kebanyakan umat Islam yang memiliki persepsi sempit tentang sedekah. Selama ini umat Islam persepsinya tentang sedekah sangat sempit. Sedekah hanya dimaknai sebagai sesuatu tambahan amal yang apabila mau ia kerjakan dan apabila tidak mau tidak apa-apa. Persepsi seperti ini tentu sangat sempit sekali, padahal menurut ajaran Islam sedekah itu di samping memiliki kebaikan dan keuntunganbagi diri orang yang bersedekah, juga meiliki kebaikan-kebaikan untuk masyarakat atau orang lain. Kebaikan bagi dirinya adalah bahwa orang yang bersedekah akan memperoleh pahala, semakin banyak sedekah yang diberikan , maka semakin banyak pahala yang diperolehnya, disamping itu orang yang banyak bersedekah akan disenangi oleh orang lain, dihormati dan dihargainya. Adapun keun tungan yang diperoleh, bahwa sedekah itu ternyata bisa menambah harta orang yang bersedekah itu, meminjam istilah Aa Gim sebutan untuk Abdullah Gimnastiar, seorang Kiai kondang saat ini bahwa sedekah itu adalah untuk memancing harta. Beberapa hadits Rasulullah saw. tentang sedekah ini cukup banyak : Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim : “ Tidak mungkin berkurang harta yang diberikan sebagai sedekah “. Hadits riwayat Imam Muslim: “ Nafkahkanlah hartamu,niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu “. Hadits riwayat Imam Baihaqi : “ Turunkanlah (datangkanlah) rizkimu ( dari Allah ) dengan mengeluarkan sedekah “. Dan masih banyak lagi hadits yang sejenis.

Kalau sedemikian hebatnya manfaat sedekah bagi si pemberi sedekah, mengapa umat Islam tidak banyak yang mau besedekah, atau mau berlomba-lomba dalam bersedekah. Jawabannya tentu persepsi yang kurang atau keliru para umat Islam tentang sedekah ini. Kekeliruan persepsi ini bisa terjadi karena kurangnya informassi yang diperoleh tentang sedekah dari sumber ajaran Islam baik dari Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah saw. Adapun kebaikan bagi orang lain atau masyarakat, maka dengan sedekah itu mampu mempererat silaturrahim atau persaudaraan atau persaudaraan atau persatuan umat Islam, dan yang tidak kalah pentingnya jika sedekah ini bisa diformat dan dikelola secara profesional, maka dipastikan dapat mengentaskan kemiskinan umat Islam yang saat ini menjadi momok utama umat Islam dan menjadi sumber persoalan sosial.

Dari uraian tersebut di atas, maka sudah saatnya bagi umat Islam mengetahui beberapa kebaikan dan keuntungan dari amal sedekah dan menjadikannya sebagai persepsinya, sehingga sedekah menjadi sesuatu yang menarik, menyenangkan dan sesuatu yang diutamakan. Tidak seperti selama ini bahwa sedekah hanya merupakan amal sambilan jika sempat dan mau saja dan tidak mempunyai arti kecuali hanya sedikit saja.(baitul-maal.com)

Senyum, Bisnis dan Sedekah, Kaitannya Sangat Kuat, Inilah Faktanya!!

APA yang harus kita lakukan untuk memperlihatkan sebuah penerimaan? Sederhana. Tersenyum. Mendapatkan sekaligus menebarkan perhatian dapat tersirat dari sebuah senyuman Anda.

Senyum adalah pekerjaan yang sangat ringan. Senyum tulus yang ditujukan kepada orang lain mengisyaratkan banyak hal. Dengan senyum, mungkin bisa menjawab lawan kita, “Saya menerimamu apa adanya, tanpa syarat.”

Ketika kita tersenyum kepada seseorang, dia akan merasa bernilai, penting dan berharga. Dia akan merasa lebih nyaman dengan dirinya. Dan hanya diperlukan sebuah senyum untuk semua itu, senyum sebagai ungkapan kehangatan yang tulus.

Senyum merupakan obat awet muda karena senyum menggerakkan otot wajah, sehingga otot wajah terlatih dan kencang. Senyum dapat mengendurkan urat saraf tegang di wajah sehingga resiko munculnya keriput dapat dikurangi. Tanpa keriput, tentu saja wajah kita terlihat lebih awet muda.

Saat tersenyum tubuh kita memberi sinyal-sinyal positif kehidupan, sehingga tubuh kita menerimanya sebagai anugerah, sehingga imunitas tubuh meningkat. Senyum sama dengan olah raga yang bermanfaat, otot-otot wajah ikut bergerak. Otot yang rileks membuat kita merasa lebih fit.

Diantara satu sebab penyakit jantung adalah stres. Stres akan memicu kerusakan endothelium –lapisan jantung- yang dapat mendorong terciptanya kolesterol pada pembuluh darah. Hebatnya, senyum mampu menghilangkan stres.

Senyum mampu membuat jantung tidak berdebar terlalu kencang. Dapat kita bayangkan dampak dari keadaan tersebut. Tersenyum juga dapat membuat kita lebih rileks sehingga kerja jantung pun normal dan resiko hipertensi dapat dikurangi.

Ada lagi, senyum dan tawa bisa mengurangi produksi hormon efinefrin dan kortisol. Hormon ini memiliki pengaruh memperlambat proses penyembuhan. Selain itu, senyum juga membuat tubuh menghasilkan hormon endorphin serta serotonin yang merupakan hormon pengendali rasa nyeri. Oleh karena itu, senyum dapat mengurangi rasa nyeri dan mempercepat proses penyembuhan.

Senyum, bisnis dan sedekah
Pepatah China mengatakan, “Seseorang yang tak memiliki senyum seharusnya tidak membuka toko.” Wiraniaga, pelaku bisnis, siapa pun yang kehidupannya bergantung pada pelanggan atau dukungan orang lain harus belajar cara mempraktikkan penerimaan dalam hubungan mereka.

Senyum akan semakin indah tatkala sederet gigi putih bersih tampak menghiasi bibir. Coba Anda membayangkan tatkala sakit gigi, dapatkah Anda tetap tersenyum dengan indah? Jangan-jangan untuk berbicara saja Anda malas.

Ada sebuah timbal balik yang terjadi, bahwa jika kita membuat orang lain merasa nyaman dengan tersenyum dan menyapanya dengan positif, mereka juga akan ingin membalas dengan memberi kita perlakuan serupa.

Willy Loman, dalam Death of a Salesman, berkata, “Hal terpenting adalah menjadi disukai.” Ketika orang lain menyukai kita, mereka akan lebih memiliki kesediaan untuk bekerja sama dengan kita. Titik awal untuk menjadi disukai adalah menyukai orang lain.

Dan cara untuk mengungkapkan bahwa kita menyukai orang lain adalah dengan memberinya senyum sepenuh hati yang hangat ketika bertemu dengannya.

Begitu juga dalam Islam. Senyum yang ikhlas, merupakan sedekah. Itulah nilai senyum dalam Islam. Nabi Muhammad adalah orang yang senantiasa menebarkan senyum. Senyum beliau membuat kaum muslimin semakin mencintainya. Senyum beliau membuat kaum kafir Quraisy semakin canggung kepadanya.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi,”Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqoh.” Artinya, “Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.”

Mengajarkan kebaikan kepada orang lain akan lebih mudah diterima jika kita selalu mempersembahkan senyum kepada orang tersebut. Seorang muslim berkewajiban berdakwah yaitu mengajak orang lain menuju jalan kebaikan. Maka awalilah pendekatan dengan orang lain melalui senyuman.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ad-Dailamy, Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak: tasbih, tahmid, takbir, tahlil (dzikir), amar ma’ruf nahyi munkar, menyingkirkan penghalang (duri, batu) dari jalan, menolong orang, sampai senyum kepada saudara pun adalah sedekah.”

Hadits tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa kebaikan bisa kita lakukan dengan cara sederhana, sedekah itu tidak harus selalu kita lakukan dengan memberi sejumlah materi jika kita memang tidak punya apa-apa. Karena membuat gerakan ekspresif dengan menarik sudut bibir ke atas tanpa bersuara sudah merupakan sedekah.

Begitu banyak hikmah senyum. Sangat tepat jika Islam memaknai senyum sebagai sedekah. Senyum menambah sehat tubuh dan mempererat hubungan baik dengan teman. Senyum merupakan alat berdakwah yang efektif dan tentu saja bernilai pahala.

Agar Anda senantiasa merasa nyaman dan semakin sehat, maka perbanyaklah senyum. Agar senyum Anda berbuah nilai sedekah, maka luruskanlah niat karena ikhlas mengharap ridho Allah SWT.

Dan agar Anda memperoleh senyum yang indah, maka peliharalah pula kesehatan gigi Anda. Tentusaja, bukan senyum di sembarang tempat. Kecuali Anda sudah tak sehat akal lagi. (Oleh:Kurnia Ayu Lestari-Penulis adalah dokter dan ibu rumah tangga-tulisan ini diambil dari hidayatullah.com)

Baca juga artikel dibawah ini :

Sedekah Lewat Sholat Dhuha, Bisakah?

Abu Dzar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setiap tulang dan persendian badan dari kamu ada sedekahnya; setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap amar ma’ruf adalah sedekah, dan setiap nahi munkar adalah sedekah. Maka, yang dapat mencukupi hal itu hanyalah dua rakaat yang dilakukannya dari Shalat Dhuha.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud)

Abu Hurairah r.a. berkata, “Kekasihku, Muhammad Saw. Berwasiat kepadaku agar melakukan tiga hal: Berpuasa tiga hari pada setiap bulan(Hijriah, yaitu puasa putih atau Bidl, tanggal 13,14,15),

dua rakaat shalat Dhuha, dan agar aku melakukan shalat Witir dulu sebelum tidur.” (HR Bukhari-Muslim).

Rasulullah Saw. bersabda: “Shalat Dhuha itu shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim)

Buraidah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Dalam tubuh manusia terdapat 360 persendian, dan ia wajib bersedekah untuk tiap persendiannya.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang sanggup, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ludah dalam masjid yang dipendamnya atau sesuatu yang disingkirkannya dari jalan. Jika ia tidak mampu,maka dua rakaat Dhuha sudah mencukupinya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Peregangan sungguh mutlak diperlukan, untuk kesiapan kita menyongsong hari penuh tantangan. Dan, Rasulullah Saw. menyinggungnya dengan ungkapan santun: “hak dari setiap persendian.” Semuanya cukup dengan dua rakaat dhuha. Shalat memang memiliki kombinasi unik dari tiap gerakannya bagi tubuh. Hanya saja untuk Dhuha, waktunyalah yang memang unik; waktu ketika tubuh memerlukan energy namun juga harus bersiap menghadang stress yang menerpa.

Dr. Ebrahim Kazim-seorang dokter, peneliti, serta direktur dari Trinidad Islamic Academy-menyatakan, “Repeated and regular movements of the body during prayers improve muscle tone and power, tendon strength, joint flexibility and the cardio-vascular reserve.” Gerakan teratur dari shalat menguatkan otot berserta tendonnya, sendi serta berefek luar biasa terhadap system kardiovaskular. Itulah peregangan dan persiapan untuk menghadapi tantangan, tapi bedanya dengan olah raga biasa adalah: pahalanya luar biasa!

Abu Darda r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Wahai anak Adam kerjakanlah shalat empat rakaat kepada-Ku pada permulaan siang niscaya Aku akan member kecukupan kepadamu sampai akhir siang.” (HR at-Tirmidzi).

Terlebih lagi shalat Dhuha tidak hanya berguna untuk mempersiapkan diri menghadapi hari dengan rangkaian gerakan teraturnya, tapi juga menangkal stress yang mungkin timbul dalam kegiatan sehari-hari, sesuai dengan keterangan dr. Ebrahim Kazim tentang shalat: “Simultaneously, tension is relieved in the mind due to the spiritual component, assisted by the secretion of enkephalins, endorphins, dynorphins, and others.”

Ada ketegangan yang lenyap karena tubuh secara fisiologis mengelurakan zat-zat seperti enkefalin dan endorphin. Zat ini sejenis morfin,termasuk opiate. Efek keduanya juga tidak berbeda dengan opiate lainnya. Bedanya, zat ini alami, diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga lebih bermanfaat dan terkontrol.

Jika barang-barang terlarang macam morfin bisa memberi rasa senang-namun kemudian mengakibatkan ketagihan disertai segala efek negatifnya- endorphin dan enkefalin tidak. Ia memberi rasa bahagia, lega, tenang, rileks, secara alami. Menjadikan seseorang tampak ebih optimis, hangat, menyenangkan, serta seolah menebarkan aura ini kepada lingkungan di sekelilingnya.

Subhanallah….Maka, shalat Dhuha-lah, peregangan sekaligus pereda stress. Inilah rehat yang tidak sekadar rehat. Daripada sekadar duduk-duduk mengobrol, ayo rehat dengan ber-Dhuha dan segera kembali beraktivitas setelahnya. Kemudian, rasakan bedanya!

Do’a Setelah Shalat Dhuha (dapat dibaca artinya saja tanpa Arab)

Ya Allah, bahwasannya waktu dhuha itu adalah waktuMU,
dan keagungan itu adalah keagunganMU,
dan keindahan itu adalah keindahanMU,
dan kekuatan itu adalah kekuatanMU,
dan perlindungan itu adalah perlindunganMU,
Ya Allah, jika rizkiku masih di atas langit, maka turunkanlah,
jika masih di dalam bumi, maka keluarkanlah

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Islam dari segi Ajaran, Ibadah, Larangan, Perintah, Kitab Suci Al-Qur’an & lainnya bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. QS. 4 An-Nisaa’:82

Maha Suci Allah dengan segala kekuasaan-Nya. Sungguh, apa-apa yang ditetapkan Allah, ada manfaat yng bisa diambil.

Jadi,,, 1 lagi bukti… Islam TERBUKTI BENAR!
DARI ILMIAH,,,, Islam terbukti Benar
DARI KITAB LAIN,,, Islam terbukti Benar

Segala puja & puji bagi ALLAH,,, Qur’an TERBUKTI Sepanjang Masa!

Qs.3 Ali Imran:85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Jika Anda Sedekah, Inilah Manfaatnya Buat Anda

SERING kita beranggapan sedekah hanya berguna bagi penerimanya. Jarang disadari jika sedekah banyak membawa manfaat dan faedah bagi pelaku sedekah sendiri secara rohaniah maupun jasmaniah.

Secara rohaniah, sedekah menjadi sarana penyucian dosa, kikir, dan mengangkat derajat menjadi mukmin dan mukhlis. Allah SWT berfirman, “Ambillah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan sedekah (zakat) itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka,” (Q.S. At Taubah [9]: 103).

Selain sedekah bermanfaat membantu orang lain yang berkekurangan, juga bisa meredam murka Allah dan sarana mencapai khusnul khatimah (akhir hidup terpuji). Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya sedekah bisa meredam murka Allah dan dapat menghindarkan seseorang dari kematian su’ul khatimah,” (H.R. Tirmidzi).

Ada janji besar bagi orang yang suka meringankan beban kesulitan orang lain. Sabda Nabi saw., “Barangsiapa memberi napas (meringankan) seorang mukmin dari kesulitan impitan dunia, Allah akan memberi napas (yang sama) kepadanya kelak dari kesulitan impitan hari kiamat,” (H.R. Muslim).

Adapun manfaat jasmaniah; Pertama, sedekah bisa mengobati penyakit. Rasulullah saw. bersabda, “Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah,” (Shahih Al-Jami’). Kedua, harta tidak berkurang, malah bertambah (Q.S. Al Baqarah [2]: 276).

Sedekah tak lain investasi abadi dan tabungan hakiki di akhirat. Hakikat sedekah adalah pinjaman pada Allah SWT yang dijamin terbalas. Firman-Nya, “Siapa memberi pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik (di jalan Allah), Allah akan melipatgandakan pembayarannya dengan kelipatan banyak,” (Q.S. Al Baqarah [2]: 245).

Ketiga, tidak mudah stres. Stres biasanya muncul karena persoalan duniawi. Stres tidak menimpa orang dermawan karena dirinya tidak memiliki sifat sedekah. Ketika memiliki kelebihan, ia selalu berbagi dengan yang lain.

Keempat, dimudahkan dalam segala urusan karena didoakan penerima dan malaikat (H.R. Muttafaq Alaih).

Kelima, memperkukuh cinta, kasih sayang, solidaritas sosial, dan persaudaraan. Sabda Rasul, “Saling maafkan kalian niscaya hilang kedengkian, saling memberi hadiah dan berkasihsayanglah niscaya hilang permusuhan,” (H.R. Imam Malik).

Perilaku dermawan bukti keimanan (H.R. Muslim).

Sedekah yang berasal dari kata ash-shidqu -makna iman-yaitu upaya membenarkan iman dengan amal perbuatan. Maka pantas jika orang yang tidak peduli pada anak yatim dan fakir miskin disebut sebagai mendustakan agama (yukadzibu bid-din) (Q.S. Al Ma’un [107]: 1-3) karena keimanannya tidak dibenarkan perilakunya sendiri.

Mula-mula menjadi mukmin, kemudian Muslim (taat ibadah), dan buahnya muhsin (suka berbuat baik pada sesama). Muhsin, derajat keimanan tertinggi di mana seseorang seolah melihat Allah, dan jika tidak melihat-Nya pun Dia senantiasa mengawasi dirinya dalam setiap waktu dan kesempatan.

Contohnya, bersedekah sembunyi-sembunyi sampai tangan kiri tidak tahu apa yang diberikan tangan kanan. Tidak heran, pelakunya digolongkan salah satu kelompok yang kelak dilindungi Allah di saat tidak ada lindungan lain selain lindungan-Nya (H.R. Muttafaq Alaih).

Secara sosial, sedekah memupuk solidaritas dengan semangat pemberdayaan mengangkat harkat dan martabat kaum lemah, fakir, miskin, yatim (dalam pengertian nasab dan sosial bagi mereka yang tidak punya pekerjaan).

Banyaknya kalangan ekonomi tertinggal yang terbantu, di samping kian mempercepat pemerataan kesejahteraan juga terbukti mampu menekan angka kriminalitas secara signifikan di tengah-tengah masyarakat.

Sebab, sedekah merujuk pentingnya ukhuwah islamiah, di mana setiap individu sadar akan prinsip ta’awuniyyah atau tolong-menolong antarsesama. Yang kuat membantu yang lemah, orang kaya mengangkat orang miskin, penguasa melindungi rakyat, atasan menyayangi bawahan, demikian sebaliknya.

Harmoni kehidupan bermasyarakat akan kukuh jika setiap orang memiliki kesadaran membantu orang lain (dan bukan semangat ingin mendapatkan “apa-apa” dari orang lain). Ingatlah, tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah, (H.R. Muttafaq Alaih).

Apalagi kekayaan yang harus disedekahkan adalah sisa kebutuhan yang sesuai kadar kemampuan (al-’afwu) (Q.S. Al Baqarah [2]: 219).

Namun, bukan berarti sedekah cukup dengan sumbangan uang recehan (sedemikian pelitkah kita membeli kenikmatan surga untuk kita sendiri dengan sejumlah uang recehan?), namun jumlah yang layak diberikan.

Sedekah tidak terbatas bantuan materiil tetapi juga bersifat moril berupa atensi, simpati, tenaga, dan waktu. Yahya bin Muadz mengarahkan, “Jika tidak mampu memberi, jangan menyusahkan. Jika tidak mampu menghibur, jangan membuat orang lain sedih. Jika tidak mampu memuji, jangan menghina orang lain.”

Suatu kali datang pengemis wanita kepada Rasulullah saw. meminta bantuan. Setelah mendengar keluhannya penuh saksama, beliau membantu pengemis itu mencarikan makanan di sepanjang jalan Madinah dan tangannya diapit pengemis tersebut! Akibatnya beliau terlambat salat berjemaah karena membantu pengemis itu.

Subhanallah, betapa agung pekerti luhur Nabi saw. Setiap orang yang datang mengeluh kepada Nabi, bukan keluhannya saja yang didengarkan tetapi juga segera bergerak membantu sekemampuan.

Gamal Mazhi, penulis Fiqhul Harakah fil Mujtama, mencatat empat hikmah yang bisa diteladani dari contoh di atas. Pertama, menenteramkan orang yang ditimpa masalah. Kedua, memerhatikan gejolak jiwa orang yang meminta pertolongan, bukan malah membanding dengan kesulitan yang tengah kita hadapi. Ketiga, memelihara rahasia yang meminta tolong terutama kehormatan dirinya. Keempat, mencarikan jalan keluar baginya.

Tujuan sedekah guna mendekatkan diri kepada Allah, bukan demi gengsi, pujian, dan popularitas (riya’).

Alquran memperingatkan, sedekah karena riya’ dengan menyebut-nyebutnya atau memberi namun menyakiti penerimanya (apalagi tidak memberi dan malah menyakiti, dosanya dua kali lipat), pahalanya ibarat debu di atas batu licin yang ditimpa hujan lebat (Q.S. Al Baqarah [2]: 264). Tidak berbekas apa-apa selain pujian itu sendiri. Nau’udzu billahi min dzalik! (Oleh YUSUF BURHANUDIN- dari sadeanku.wordpress.com)

Baca juga artikel dibawah ini :

Sedekah dan Doa Yang Tidak Diterima Allah SWT

Diriwayatkan dari Mush’ab din Sa’ad, ia berkata: Abdullah bin Umar r.a. pernah masuk ke tempat Ibnu Amar untuk menjenguknya ketika sakit. Lalu ia bertanya,”Hai Ibnu Umar, ketika di Basrah mengapa kamu tidak berdoa kepada Allah SWT. untuk saya?” Abdullah ibnu Umar menjawab,”Allah tidak menerima sha;at (doa) tanpa bersuci dan tidak menerima sedekah dari hasil penipuan (hasil yang tidak halal)”. (HR. Muslim)

Hadits di atas menggambarkan dua perbuatan yang tidak diterima oleh Allah SWT. yakni doa tanpa bersuci dan sedekah dari hasil yang tidak halal.


Doa Tanpa bersuci
Shalat adalah doa. Sebab, dalam seluruh gerakan ibadah shalat semuanya berisi doa dan harapan kepada Sang Khalik agar mengabulkan hajat mhamba-Nya. Harapan ini mencakup kebutuhan ukhrawi tanpa melupakan kepentingan dunia.

Bagi umat Islam, doa merupakan sarana mendekatkan diri kepada Sang maha Suci, Allah SWT. Karena yang kita tuju adalah zat Yang Maha Suci, maka diri kita pun sebagai pemohon harus menyesuaikan diri, sesuai dengan aturan yang pantas dilakukan.

Ketika berdoa, seorang muslim harus sunggguh-sungguh bersih dari segala kotoran, baik hadats kecil maupun hadats besar yang bisa menghalangi tercapainya doa, terutama dari awal niat kita yang terpatri di dalam hati.

Untuk menciptakn kondisi demikian, maka hati, pikiran, jiwa serta perangkat lain yang kita miliki harus kita fokuskan kepada Alah dengan niat Ikhlas.


Sedekah Dari Hasil Penipuan
Pada dasarnya, sedekah atau memberikan barang berharga yang kita miliki kepada orang tanpa pamrih adalah perbuatan mulia dan sanyat dianjurkan oleh agama.

Karena sedekah dapat membantu orang-orang yang tidak mampu, khususnya dalm bidang ekonomi. Besar kecilnya bentuk sedekah tidak dibatasi atau sesuai dengan kemampuan individu.

Namun, ternyata ada sedekah yang tidak diterima oleh Allah SWT, walaupun bentuk sedekahnya sendiri diterima oleh manusia, yaitu sedekah yang dihasilkan dari penipuan seperti yang dimaksudkan hadits di atas.

Kenapa tidak diterima? Penipuan adalah metode mendapatkan sesuatu atau hasil dengan cara yang tidak halal. Dengan kata lain, perbuatan seperti itu dengan segala jenis tidak di ridhai oleh Allah SWT.

Mengingat cara yang ditempuh tidak selazimnya, maka hasil yang dihasilkan secara otomatis mengandung barang haram yang tidak disukai Allah. Oleh karena itu, sudah sudah sepantasnya kita membersihkan harta kita dari sesuatu yang diharamkan Allah SWT.(sumber :educrazy.wordpress.com)

Baca juga artikel dibawah ini :